I.
Pendahuluan
Pada era modern ini
telah banyak macam – macam usaha yang dibuka mulai dari resto,caffe,pakaian,dll
yang mungkin tidak bisa disebutkan semuanya. Pada tahun 2015 sedang maraknya
minimarket yang berupa resto/caffe yang berada diwilayah amerika serikat namun
pada di tahun 2015 ini pun baru naik namanya di Indonesia. Gerai ini sangat
unik yang membuat para remaja serta mahasiswa tertarik karena menyediakan
fasilitas yang sesuai serta bayarannya pun pas dengan harga kantong para
remaja. Setiap perusahaan seiringnya berjalannya waktu pasti selalu berubah –
ubah baik itu zamannya atau pesaingnya. Bukan lagi perusahaan kalau ingin
membuat para pelanggannya puas dengan pelayanannya yang telah disediakan oleh
perusahaan masing – masing namun berbeda mode. Masalah semakin maju atau
menurunnya suatu perusahaan ialah tergantung dari pengelolaannya bagaimana usaha
tersebut agar bisa menjaga,bersaing dan mengikuti zaman serta pemikiran para
konsumen. Namun, disini akan dijelaskan gerai yang tutup karena mengalami
penurunan sehingga gerai tersebut tidak sanggup untuk melanjutkan lantaran
untuk membayar beban – beban yang dikeluarkan.
Pada tahun 2015 maraknya nama 7-eleven yang dianggap tempat
nongkrong kekinian untuk para remaja. Perusahaan ini juga menjadi kontributor
pendapatan terbesar pada mayoritas perusahaan. Namun pada saat memasuki tahun
2016 perusahaan 7-eleven ini mengalami penurunan hingga tutupnya beberapa gerai
di wilayah Indonesia. Bisnis model ini diterapkan oleh 7-eleven di Indonesia
namun, diganggu oleh perkembangan peraturan yang kurang kondusif sehingga
perusahaan pun mengalami penurunan terus – menerus.
Perusahaan tutup sekitar 25 gerai pada 2016 dibandingkan 2015 sekitar 20 gerai. Total gerai 7-eleven sekitar 161 gerai pada tahun 2016. Pada tahun 2017 pendapatan perusahaan 7-eleven pun semakin lama semakin menurun yang disebabkan berbagai faktor, sehingga 7-eleven pun mengibarkan bendera putihnya pada tanggal 30 Juni 2017 untuk menutup seluruh gerai 7-eleven di Indonesia guna menghindari kerugian yang sangat besar. Faktornya ialah disebabkan pada peraturan yang dikeluarkan oleh kementrian perindustrian ditetapkan untuk melarang menjual minuman berakohol dikarenakan warga Indonesia adalah mayoritas Muslim.
Padahal, dengan menjual minuman berakohol tersebut adalah sumber pendapatan yang besar untuk mendapatkan keuntungan. Diberikannya fasilitas Wifi gratis juga faktor yang menyebabkan penurunan pendapatan pada 7-eleven, karena pengunjung datang hanya membeli 1 buah minuman dan duduk untuk ber-Wifi-an gratis hingga berjam – jam. Maka dari itu, dengan adanya pengeluaran perusahaan yang tidak sesuai dengan pendapatannya, ini menyebabkan kerugian pada perusahaan tersebut, sehingga tidak cukup untuk dibebankan.
Biaya sewa tempat dan infrastruktur juga terpengaruh karena penurunan perusahaan tersebut apalagi perusahaan gerai 7-eleven juga harus membayar utang Bank, jadi ini adalah resiko bisnis yang mereka hadapi karena biayanya sebagian besar utang melalui perbankan. Model bisnis dan risiko gerai 7-eleven serupa dengan restoran makanan dan minuman siap saji yang difasilitasi dengan tempat duduk dan wifi gratis. Akibatnya, rantai itu menghadapi persaingan yang ketat dari restoran cepat saji dan penjual makanan tradisional yang masih sangat popular di kalangan konsumen Indonesia.
Perusahaan tutup sekitar 25 gerai pada 2016 dibandingkan 2015 sekitar 20 gerai. Total gerai 7-eleven sekitar 161 gerai pada tahun 2016. Pada tahun 2017 pendapatan perusahaan 7-eleven pun semakin lama semakin menurun yang disebabkan berbagai faktor, sehingga 7-eleven pun mengibarkan bendera putihnya pada tanggal 30 Juni 2017 untuk menutup seluruh gerai 7-eleven di Indonesia guna menghindari kerugian yang sangat besar. Faktornya ialah disebabkan pada peraturan yang dikeluarkan oleh kementrian perindustrian ditetapkan untuk melarang menjual minuman berakohol dikarenakan warga Indonesia adalah mayoritas Muslim.
Padahal, dengan menjual minuman berakohol tersebut adalah sumber pendapatan yang besar untuk mendapatkan keuntungan. Diberikannya fasilitas Wifi gratis juga faktor yang menyebabkan penurunan pendapatan pada 7-eleven, karena pengunjung datang hanya membeli 1 buah minuman dan duduk untuk ber-Wifi-an gratis hingga berjam – jam. Maka dari itu, dengan adanya pengeluaran perusahaan yang tidak sesuai dengan pendapatannya, ini menyebabkan kerugian pada perusahaan tersebut, sehingga tidak cukup untuk dibebankan.
Biaya sewa tempat dan infrastruktur juga terpengaruh karena penurunan perusahaan tersebut apalagi perusahaan gerai 7-eleven juga harus membayar utang Bank, jadi ini adalah resiko bisnis yang mereka hadapi karena biayanya sebagian besar utang melalui perbankan. Model bisnis dan risiko gerai 7-eleven serupa dengan restoran makanan dan minuman siap saji yang difasilitasi dengan tempat duduk dan wifi gratis. Akibatnya, rantai itu menghadapi persaingan yang ketat dari restoran cepat saji dan penjual makanan tradisional yang masih sangat popular di kalangan konsumen Indonesia.
III.
PENUTUP
KESIMPULAN
7-eleven mulai
mengalami penurunan pendapatan karena atas dikeluarkannya persyaratan dari
kementerian perindustrian serta fasilitas yang diberikannya lebih banyak dibanding
pemasukannya yang didapat. Pada akhirnya 7-eleven mengalami penurunan dan
memutuskan untuk menutup perusahannya guna menghindari kerugian yang besar.
SARAN
Lebih mengubah metode
penjualannya, tidak harus berpatok/kesamaan pada barang luar negri yang akan
dijualnya. Gerai tersebut harus melihat kondisi serta aturan yang berada di
suatu Negara karena tidak semua Negara sama diberlakukanya penggunaan suatu
barang.
IV.
REFERENSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar